Pertanian merupakan sektor yang sangat penting bagi negara sebesar Indonesia. Dengan jumlah penduduk mencapai 249,9 juta jiwa (2013), pangan merupakan sektor yang sangat vital bagi negeri ini. Sayangnya Indonesia seringkali tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut dan terpaksa bergantung kepada negara lain. Fakta tersebut dapat dilihat pada Buletin Triwulanan Ekspor Impor Komoditas Pertanian Tahun 2015 yang dikeluarkan oleh Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian – Kementrian Pertanian RI. Dari data tersebut diketahui bahwa kontribusi Impor terbesar pada tahun 2014 pada bulan Januari – Desember berasal dari sub sektor tanaman pangan sebesar 48,27 % dengan nilai impor mencapai US$ 7,66 milyar. 

Menurut laporan BPS pada tahun 2013, jumlah rumah tangga usaha tani di Indonesia mengalami penurunan sekitar 5 juta dalam kurun waktu satu dekade. Penurunan ini disebabkan oleh minimnya lahan untuk bercocok tanam, dimana rata-rata petani hanya memiliki sekitar 0,3 hektar lahan yang hanya cukup untuk keperluan keluarga mereka dan akhirnya tidak memiliki penghasilan sama sekali. Ada beberapa alasan yang menyebabkan produksi tidak maksimal, antara lain cuaca, serangan hama dan masih tradisionalnya sistem pertanian dalam negeri. Cuaca di berbagai belahan dunia tidak dapat terprediksi lagi akibat perubahan iklim. Musim panas yang panjang menyebabkan kekurangan sumber air dan berdampak pada kekeringan termasuk pada lahan pertanian. Hujan lebat yang terjadi pada waktu yang cukup lama menyebabkan banjir di beberapa daerah dan menggenangi lahan pertanian. Serangan berbagai hama juga menyebabkan kegagalan panen di beberapa daerah. Faktor yang tidak kalah penting yang memiliki andil terhadap tidak maksimalnya produktivitas pertanian adalah masih minimnya penggunaan teknologi pada sektor pertanian. Para petani masih menggunakan cara turun temurun dan tidak banyak yang memanfaatkan teknologi.

Dengan teknologi yang mereka usung, perusahaan agrimart berharap dapat meningkatkan produktivitas bercocok tanam bagi petani. Teknologi merupakan salah satu cara untuk memecahkan masalah di dunia nyata. Bahkan masalah pertanian yang terbilang masih jarang tersentuh teknologi pun bisa dipecahkan. Itulah yang dilakukan perusahaan agrimart untuk membantu petani dalam mengelola lahan garapan mereka. Kami percaya bahwa kemajuan pertanian dan kemandirian pertanian Indonesia akan terwujud dengan adanya inovasi teknologi dan dengan bersama – sama mendorong minat warga Indonesia dalam melakukan kegiatan bertani. “Butuh tenaga ekstra untuk mengolah lahan dari membajak, mengairi, memupuk, menanam dan memelihara dengan sabar hingga panen. Pada masa tanam, ada kecemasan bila hujan berhenti turun sehingga benih mati. Saat masa tumbuh, ada kekhawatiran pupuk yang kurang sehingga tanaman tumbuh kerdil dan berpenyakit. Saat siap panen, kecemasan akan risiko hama yang datang […]. Setelah panen pun mereka harus membayar hutang tengkulak dulu sebelum mendapat sisihan keuntungan.” ungkap Regina Rivani Andani selaku Agriculture Scientist di CI-Agriculture yang mewakili wawancara Tech in Asia dengan CI-Agriculture.

Berangkat dari kondisi tersebut, perusahaan agrimart hadir memberikan solusi kepada petani dengan sistem manajemen pengelola area tanam, pengelola jadwal tanaman , serta tracking menggunakan GPS. Tidak perlu khawatir lagi jika anda sedang keluar rumah atau jarang berada di kebun dan ingin mengetahui kondisi tanaman anda karena telah hadir sebuah sistem yang membantu anda mengetahui kondisi tanaman anda langsung dari smartphone anda. Perusahaan Agrimart memantau kondisi tanaman dan menganalisisnya untuk anda.

Categories: News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »